diposkan pada : 26-02-2020 16:28:37 Tren Toko Retail Tahun 2020 dan Masa Depan

Ada beberapa teknologi diramalkan akan menjadi tren pada tahun 2020. Namun sebenarnya, tidak ada sesuatu yang baru di bawah Matahari.
Teknologi yang diprediksi akan menjadi tren itu bisa jadi merupakan gabungan dari teknologi sebelumnya. Atau ada juga cara baru penggunaan teknologi yang sudah ada, namun belum pernah dilakukan sebelumnya.

Kali ini saya ingin bercerita tentang tren teknologi 2020 pada bidang retail atau perniagaan, khususnya perubahan bentuk dan model dari toko, sebagai jalur distribusi kepada pengguna akhir barang yang diperdagangkan.


Walaupun mungkin tren tentang toko retail yang akan saya bahas disini mungkin sudah terjadi di belahan dunia lain, namun cerita saya ini utamanya adalah untuk tren yang terjadi di Jepang.


Baiklah sebelum memulai pembahasan, saya ingin bertanya kepada Anda, terutama bagi yang suka berbelanja. Apa tujuan Anda pergi ke toko? 

Jawabannya tentu ada berbagai macam. Salah satunya saya kira adalah selain untuk membeli barang yang anda suka, Anda tentu ingin melihat, memegang, bahkan mencoba langsung lebih dahulu barang yang akan Anda beli bukan?

Dengan alasan yang sama, maka toko konvensional (sebutan ini saya gunakan untuk membedakan toko yang saat ini ada dengan toko yang ingin saya bahas) tentu perlu menyediakan tempat yang memadai untuk memajang barang dagangan, serta menyediakan ruangan bagi pembeli untuk mencoba (misalnya ruang fitting), juga tempat untuk menampung stok komoditas (alokasi tempat yang berfungsi sebagai gudang).

Sehingga tak jarang kita menemukan toko dengan ruang belanja yang luas. Ini dapat dibuktikan dengan mudah, misalnya jika kita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan Takashimaya di Shinjuku, atau jika kita pernah mengunjungi beberapa toko di kawasan Ginza.

Bagi (calon) pembeli, toko yang luas tentu memberikan keleluasaan dan kenyamanan saat berbelanja. Namun pada sisi penjual, dengan toko yang luas tentu membutuhkan biaya sewa dan perawatan (biaya operasional) yang tidak sedikit. 

Terutama di Jepang tenaga manusia masih tergolong mahal jika dihitung biayanya per jam. Apalagi ditambah jika toko berlokasi di daerah dengan uang sewa per meter yang relatif mahal seperti di Roppongi, Yuurakucho dan Ginza.

Untuk mengurangi biaya operasional dan juga karena perkembangan teknologi saat ini membuat pergeseran pola belanja dari cara membeli langsung dengan mengunjungi toko (saya akan menyebutnya sebagai offline) ke cara pembelian melalui internet (saya sebut sebagai online), maka bisnis perdagangan (retail) pun harus pandai memanfaatkan teknologi untuk mencari peluang supaya tidak ditinggalkan oleh pelanggan.

Pemanfaatan teknologi dalam bisnis retail di Jepang lebih dikenal dengan nama "RetailTech". Berbagai jenis teknologi digunakan untuk kepentingan ini. Mulai dari teknologi primadona Artificial Intelligence (AI), kemudian Augmented Reality (AR), Robotics, Face Recognition, dan lainnya.

Lalu bagaimana wujud dan cara toko yang menerapkan RetailTech ini menjalankan bisnisnya?

Kita bisa melihatnya dengan mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan bernama Parco di Shibuya. Sebagai catatan, Parco sendiri adalah pusat perbelanjaan yang bisa ditemukan di seluruh Jepang, mulai dari utara di Sapporo, sampai Selatan di daerah Fukuoka.

Parco baru saja membuka pusat perbelanjaan baru di Shibuya akhir tahun lalu. Di lantai 5 gedung Parco inilah kita bisa menemukan tren toko retail masa depan yang mereka namai "Parco Cube".

Untuk mempermudah aktivitas maka pengunjung bisa mengunduh program dari Google Play atau Apple App Store yang khusus disediakan terlebih dahulu, dan mengaktifkannya saat berada di sini (ada sambungan free wifi). 

Setelah itu tampilan dari AR bisa kita nikmati langsung dari smartphone  maupun dari kacamata VR (atau biasa disebut sebagai HMD head mount display) . Sayangnya, masa sewa gratis untuk peralatan HMD sudah lewat.

Dari smartphone atau HMD kita bisa melihat show case komoditas , yang dipadukan dengan seni tiga dimensi. Perpaduan antara teknologi, seni, budaya dan fashion ini bisa menarik banyak pengunjung. Tentunya jika ada dari pengunjung yang tertarik produk tertentu, maka dia bisa langsung mengunjungi toko yang terletak di lantai yang sama.

Contohnya JINS, yang merupakan salah satu toko penjual kacamata, menggunakan teknologi AR agar pengunjung bisa melihat apakah kacamata yang dikenakan pengunjung sesuai dengan pakaian yang dipakai saat itu. 

Caranya adalah, pengunjung bisa memakai kacamata yang disediakan, lalu menghadap ke display yang bisa juga berfungsi sebagai cermin. Kemudian AI akan "menilai", dan memberi rekomendasi kalau pilihan kacamata tidak cocok dengan pakaian atau model rambut dari pengunjung.

Kemudian sistem akan menampilkan kacamata yang cocok dengan analisa menggunakan teknologi AI, dan menampilkan itu pada layar dengan teknologi AR. Dengan begitu pengunjung bisa melihat langsung, mengubah warna lensa atau frame ke warna yang diinginkan.

Kemudian jika pengunjung menginginkannya, dia bisa memesan langsung dengan mengoperasikan program yang sudah digunakan (karena program sudah terintegrasi dengan toko online).

Jadi memang tujuan toko bukan untuk menjual langsung barang kepada pembeli. Toko-toko ini hanya berfungsi sebagai pembantu agar omzet penjualan online bisa bertambah. Walaupun tentu kalau stok tersedia, pembeli bisa langsung membawa pulang barang yang diinginkannya.

Terutama toko bertujuan sebagai tempat entertainment, karena pengunjung bisa bermain dengan smartphone, tampilan display dan juga melalui AR, untuk sekadar "memakai" atau mencoba barang yang dijual. 

Dengan ini diharapkan pengunjung menaruh minat pada barang yang dijual tersebut. Kalau sudah tertarik, maka pengunjung bisa bertanya lebih jauh lagi kepada penjaga disana, atau bermain lebih lama lagi dengan fasilitas yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Ada kurang lebih 11 toko yang menyediakan lokasi bagi pengunjung untuk mencoba berbagai macam teknologi disesuaikan dengan barang yang dijual. Karena barang yang dipajang juga tidak banyak, dan gudang juga nyaris tidak diperlukan, maka ukuran toko pun bisa dibuat seminimal mungkin sehingga berbentuk seperti kotak (cube). Dari sini juga maka area di lantai 5 Shibuya Parco ini dinamai "Parco Cube".

Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, kesebelas toko itu tujuan utamanya adalah bukan untuk "menjual". Pembaca tentu heran, kenapa bisa bikin toko tapi bukan untuk menjual?

Tentu bisa karena minimal ada tiga tujuan utama dari dibuatnya toko-toko seperti ini.

Pertama adalah mengubah model dari toko yang hanya "menjual", menjadi semacam arena bermain (atau thema park) seperti Disneyland yang ada sifat hiburannya (entertainment), agar pengunjung bisa tertarik dan terhibur. 

Kemudian kedua bisa mempercepat perkembangan teknologi digital yang bisa menunjang kemajuan penjualan online (biasanya disebut sebagai e-commerce atau EC). Karena memang EC mempunyai keterbatasan, dan terutama beberapa pengguna mungkin sudah merasa jenuh dengan bentuk EC yang ada saat ini.

Terakhir atau yang ketiga, diharapkan produsen bisa mendengar suara (pendapat) dari pembeli secara langsung. Dengan interaksi yang terjadi antara produsen dan konsumen ketika sedang mencoba barang sambil memanfaatkan teknologi, maka ada keuntungan yang didapat bagi kedua belah pihak.

Dengan masukan dari konsumen, maka otomatis produsen tentu bisa lebih meningkatkan kualitas produknya. Konsumen juga untung karena bisa lebih mudah untuk mendapatkan barang yang sesuai dengan keinginannya. 

Dengan bantuan teknologi, semua itu bisa terjadi dengan cepat dan mudah, karena produsen bisa memasukkan semua data (pendapat atas barang yang dijual) dari kosumen secara langsung kedalam sistem mereka, bahkan dalam hitungan detik!

Ada istilah khusus untuk toko dimana produsen dan konsumen bisa berinteraksi (bertransaksi) secara langsung, yaitu D2C atau "Direct to Customer". 

Pada model bisnis D2C ini, produsen barang menjual produknya secara langsung tanpa perantara. Dengan begitu, otomatis produsen bisa langsung berinteraksi dengan konsumen. 

Dengan pemanfaatan teknologi seperti AI dan lainnya, maka produsen dan konsumen bisa bersama-sama mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan keduanya.

Di Jepang, produsen sepatu Nike adalah salah satu yang telah menerapkan konsep bisnis D2C ini pada toko retail yang dibuka di lokasi berdekatan dengan Parco, yaitu di Shibuya Scramble.

Begitulah sedikit cerita tentang tren toko retail tahun 2020 dan untuk masa depan. 

Selain bentuk toko retail yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Jepang sebagai negara maju juga sudah mengembangkan toko dengan model tanpa penjaga (mirip dengan Amazon Go) dengan memanfaatkan teknologi seperti AI, sensor, RFID dan face recognition (pemindai wajah). 

Teknologi tentu akan terus berkembang, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk munculnya berbagai macam toko dengan model dan cara baru yang lain lagi. Saya sendiri juga sangat antusias untuk melihat jenis toko seperti apa yang akan muncul selanjutnya.

Advertisment
Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah siap berbelanja di toko dengan model lain yang menggunakan kemajuan teknologi, atau masih suka berbelanja di toko konvensional?

Selamat menikmati sisa-sisa dari akhir pekan.